Iklan

Jembatan Toddang Saloe Rp4,3 Miliar Mulai Retak di Usia Enam Bulan, LHI Soppeng Desak APH Lakukan Audit Menyeluruh

Kamis, 18 Juni 2026, Juni 18, 2026 WIB Last Updated 2026-06-18T00:08:31Z

 


SOPPENG — cobrainvestigasi.my.id Proyek pembangunan Jembatan Toddang Saloe yang berada di Desa Kessing, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, kembali menjadi sorotan publik. Pasalnya, jembatan yang baru berusia sekitar enam bulan sejak pekerjaan selesai tersebut mulai menunjukkan sejumlah indikasi kerusakan pada beberapa bagian konstruksinya.


Ketua Monitoring dan Investigasi Lembaga HAM Indonesia (LHI) Kabupaten Soppeng, Afis, menilai kondisi tersebut sebagai tanda adanya persoalan pada kualitas pekerjaan yang seharusnya mampu bertahan dalam jangka waktu yang panjang.


"Ini sangat memprihatinkan. Proyek yang menelan anggaran sekitar Rp4,3 miliar dari APBD Tahun Anggaran 2025 baru beberapa bulan selesai, namun sudah muncul retakan pada bagian pengecoran. Bahkan, permukaan beton terlihat rapuh dan berdebu," ujar Afis.



Menurut Afis, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan serius terkait mutu pelaksanaan proyek, mulai dari kualitas material yang digunakan hingga efektivitas pengawasan selama proses pekerjaan berlangsung.


"Bagaimana masyarakat dapat menikmati infrastruktur ini dalam jangka panjang jika pada usia yang masih sangat muda sudah menunjukkan gejala kerusakan. Seharusnya konstruksi seperti ini mampu bertahan puluhan tahun, bukan justru menimbulkan kekhawatiran hanya dalam hitungan bulan," tegasnya.


Berdasarkan pantauan media di lokasi pada Rabu (17/6/2026), sejumlah bagian beton jembatan tampak mengalami penurunan kualitas. Permukaan cor terlihat berdebu dan rapuh, serta terdapat retakan yang mulai muncul di beberapa titik.


Afis menduga kondisi tersebut tidak terlepas dari lemahnya pengawasan selama pelaksanaan pekerjaan. Ia juga menyoroti kemungkinan penggunaan material yang kualitasnya tidak sesuai standar teknis yang dipersyaratkan.


"Dugaan penggunaan semen dengan kualitas rendah perlu menjadi perhatian serius. Selain itu, pengawasan teknis selama pengerjaan juga patut dievaluasi. Jika pengawasan berjalan maksimal, kondisi seperti ini seharusnya dapat dicegah sejak awal," katanya.


Tak hanya pada bagian lantai jembatan, Afis juga menyoroti pekerjaan abutmen atau bangunan penahan jembatan yang menggunakan pasangan batu. Menurutnya, hasil pekerjaan pada bagian tersebut terlihat kurang maksimal dan berpotensi memengaruhi kekuatan konstruksi secara keseluruhan.


Diketahui, proyek pembangunan Jembatan Toddang Saloe dikerjakan oleh CV Fayutama Jaya Karya dengan pengawasan dari PT Intra Persada Konsultan menggunakan anggaran APBD Kabupaten Soppeng Tahun Anggaran 2025.


Atas temuan tersebut, LHI Soppeng mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk melakukan pemeriksaan dan audit menyeluruh terhadap seluruh tahapan proyek, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan pekerjaan, pengawasan teknis, hingga penggunaan material yang digunakan dalam pembangunan.


"Kami meminta APH tidak menutup mata terhadap persoalan ini. Audit menyeluruh harus dilakukan demi memastikan tidak ada praktik yang merugikan keuangan negara dalam proyek yang menggunakan uang rakyat. Infrastruktur yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah harus memberikan manfaat jangka panjang, bukan justru menyisakan tanda tanya besar di tengah masyarakat," pungkas Afis.


Munculnya indikasi kerusakan pada proyek yang belum genap satu tahun ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah untuk memperketat pengawasan terhadap setiap pekerjaan konstruksi. Sebab, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari selesainya proyek tepat waktu, tetapi juga dari kualitas, keamanan, ketahanan, dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.


( Taufiq )

Komentar

Tampilkan

  • Jembatan Toddang Saloe Rp4,3 Miliar Mulai Retak di Usia Enam Bulan, LHI Soppeng Desak APH Lakukan Audit Menyeluruh
  • 0

Terkini

Iklan